Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan serius mengenai aktivitas berkelanjutan dari aktor tak dikenal yang menggunakan alat kloning suara berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyamar sebagai pejabat pemerintah AS. Tujuan utama dari penyamaran ini adalah untuk mengekstraksi informasi sensitif atau rahasia, serta melakukan berbagai bentuk penipuan. Meskipun FBI awalnya memperingatkan kampanye ini telah berlangsung sejak setidaknya April 2025 (kemungkinan besar kesalahan ketik dan seharusnya 2023 atau 2024), pembaruan terbaru pada hari Jumat merevisi garis waktu tersebut, mengungkapkan bukti aktivitas semacam itu telah ada sejak tahun 2023.
Dalam pengumuman layanan publiknya, FBI merinci bahwa aktivitas yang terdeteksi sejak tahun 2023 menunjukkan aktor jahat telah menyamar sebagai pejabat senior pemerintah negara bagian AS, Gedung Putih, pejabat tingkat Kabinet, serta anggota Kongres. Target mereka tidak hanya terbatas pada pejabat itu sendiri, tetapi juga meluas ke anggota keluarga dan kenalan pribadi para pejabat tersebut. Komunikasi penipuan ini sering kali melibatkan penggunaan aplikasi terenkripsi seperti Signal, WhatsApp, dan Telegram, dikombinasikan dengan alat kloning suara bertenaga AI untuk meyakinkan korban bahwa mereka sedang berbicara dengan pejabat tinggi pemerintah, yang memang sering menggunakan Signal untuk urusan pemerintahan selama administrasi Trump.
Pembaruan garis waktu FBI ini mengindikasikan bahwa upaya penyamaran tersebut mungkin telah meluas hingga ke masa pemerintahan Biden, meskipun biro tersebut tidak merinci berapa banyak individu, kelompok, atau aktor yang mungkin terlibat selama bertahun-tahun. Pembaruan ini juga menyertakan detail baru mengenai taktik spesifik dan poin-poin pembicaraan yang digunakan oleh para penipu untuk menjerat korban. Prosesnya dimulai dengan melibatkan korban melalui pesan teks SMS, memperkenalkan diri, dan kemudian menyarankan untuk beralih ke aplikasi pesan terenkripsi seperti Signal, WhatsApp, atau Telegram, dengan alasan sifat diskusi yang sensitif.
Setelah berhasil memindahkan komunikasi ke platform terenkripsi, pejabat pemerintah palsu tersebut akan melibatkan korban dalam topik yang mereka ketahui dengan baik. Ini adalah langkah krusial untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas. Selanjutnya, penipu akan mengusulkan untuk menjadwalkan pertemuan antara korban dengan Presiden Trump atau pejabat tinggi pemerintah lainnya, atau bahkan mengemukakan kemungkinan nominasi korban untuk menjadi anggota dewan direksi suatu perusahaan. Janji-janji semacam ini dirancang untuk memikat korban dengan prospek keuntungan atau kehormatan yang signifikan.
Tahap berikutnya adalah permintaan data pribadi yang lebih sensitif, dengan dalih proses “verifikasi” atau “vetting.” Permintaan ini dapat mencakup foto paspor, permintaan untuk menyinkronkan perangkat penipu dengan daftar kontak telepon korban, permintaan agar korban menjadi perantara perkenalan antara rekanan, atau bahkan permintaan untuk mentransfer dana ke luar negeri. FBI mencatat dalam catatan kaki bahwa akses ke daftar kontak individu yang ditargetkan digunakan “untuk memungkinkan upaya penyamaran atau penargetan lebih lanjut,” memperluas jangkauan serangan mereka.
Setelah aktor jahat mendapatkan akses ke daftar kontak korban, mereka akan meluncurkan putaran pesan “smishing” (phishing melalui SMS) atau “vishing” (phishing melalui suara) berikutnya. Kali ini, mereka akan menyamar sebagai korban terakhir atau tokoh penting lain yang secara logis akan dihubungi oleh individu target baru. Ancaman deepfake ini bukan hal baru; pada bulan Juli lalu, Departemen Luar Negeri AS mengirimkan kabel peringatan kepada para diplomat bahwa seseorang menggunakan alat audio AI dan pesan teks untuk menyamar sebagai Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Selain itu, pada tahun 2024 di bawah pemerintahan Biden, sebuah video deepfake dari mantan juru bicara Departemen Luar Negeri Matthew Miller muncul secara daring, yang tampaknya menyiratkan bahwa kota-kota Rusia adalah target yang sah untuk militer Ukraina.
Kasus-kasus ini menggarisbawahi evolusi dan peningkatan kecanggihan ancaman siber yang didukung AI. Dengan kemampuan untuk meniru suara dan bahkan citra visual, para penjahat siber kini memiliki alat yang sangat ampuh untuk melakukan penipuan yang meyakinkan. FBI terus mendesak masyarakat dan pejabat untuk tetap waspada, memverifikasi identitas penelepon atau pengirim pesan melalui saluran resmi, dan berhati-hati terhadap permintaan informasi sensitif atau transfer dana yang tidak biasa, terutama jika berasal dari sumber yang mengaku sebagai pejabat tinggi pemerintah.
Sumber: cyberscoop.com